RSS

Kebaikan disalahartikan

05 Oct

fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan)

Barangkali kata-kata di atas telah sering terdengar oleh telinga kita. Hal ini bisa menjadi sebuah pemicu seseorang untuk berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya. bagaimana dengan kalian? sudahkah berbuat baik hari ini? berbuat baik tuh seperti apa sih?

apakah memberi hadiah terhadap orang lain itu perbuatan baik?
menolong teman mengerjakan tugasnya perbuatan baik?
menolong teman dalam mengerjakan ujian itu perbuatan baik?
menolong orang lain yang terjatuh itu perbuatan baik?

hmmh. baiklah, kita mesti mengetahui dahulu maknanya.

baik/kebaikan itu apa sih? naah kita lihat dahulu nih apa sih arti kata baik itu? (berdasarkan kbbi)

baik ba.ik[a] elok; patut; teratur (apik, rapi, tidak ada celanya, dsb): karangan bunga itu — sekali;
(2) a mujur; beruntung (tt nasib); menguntungkan (tt kedudukan dsb): nasibnya — sekali; mendapat kedudukan yg –;
(3) a berguna; manjur (tt obat dsb): buku ini sangat — untuk dibaca; daun kumis kucing — untuk obat penyakit ginjal;
(4) a tidak jahat (tt kelakuan, budi pekerti, keturunan, dsb); jujur: anak itu — budi pekertinya;
(5) v sembuh; pulih (tt luka, barang yg rusak, dsb): sudah dua minggu dirawat di rumah sakit, ia belum — juga; lukanya sudah –;
(6) a selamat (tidak kurang suatu apa): selama ini keadaan kami — saja;
(7) a selayaknya; sepatutnya: kami diterima dng –; — orang ini kusuruh pulang sekarang;
(8) p (untuk menyatakan) entah … entah …: — di kota maupun di desa, olahraga sepak bola digemari orang;
(9) p ya (untuk menyatakan setuju): berangkatlah sekarang! — , Ayah;
(10) n kebaikan; kebajikan: kita wajib berbuat — kpd semua orang

wah, ternyata banyak juga ya makna kata baik itu. silahkan ambil yang manapun. akan tetapi sepertinya kita akan coba bahas kebaikan yang dimaknai oleh nomer 10 itu.

Pernahkah Anda merasa kebaikan yang Anda lakukan disalahartikan orang lain? Bagaimana rasanya? Cuma sebalkah? Kecewakah?Apa malah marahkah? Apakah itu membuat jera melakukan hal serupa?

ketika kebaikan disalahartikan? apakah kebaikan itu mesti dihentikan?

sebuah penggalan dari status seseorang tempo dulu.

Penyalahartian kebaikan terbagi menjadi 2 hal yaitu negatif dan positif.

NEGATIF

negatif >> pamrih >> follow up dari negative thinking atau suudzon.

Kebaikan seolah telah menjadi sesuatu yang terlalu mewah untuk kita miliki dan temui saat ini. Memilikinya ibarat menyimpan bara dalam genggaman. Kebaikan akan membuat kita tidak ‘competitive’ dalam dunia yang keras ini. Hati yang lembut dan lebih ‘manusiawi’ hanya akan menghambat kita dalam meraih sukses. Sebaliknya, hati yang ‘tegaan’ dan lebih ‘rasional’ dianggap akan lebih melapangkan jalan keberhasilan.

Menemui kebaikan kini juga seolah semakin sulit. Kita semakin suka berprasangka atas kebaikan yang kita lihat. Tidak ada kebaikan yang tulus, semua pasti ada ‘sesuatu’ di baliknya. Tidak ada makan siang yang gratis. Bahkan kebaikan hati kini sering dituding sebagai penyebab keterpurukan dan nasib sial.

Berbeda dengan budaya bangsa ini yang dikenal ramah dan peduli sesamanya. Kan menjadi seperti bangsa tanpa kepedulian sesama, yang gemar saling curiga dan tak lagi mau tolong menolong antar sesama.

Inikah akhir yang kita idamkan?
Menjadi bangsa yang kehilangan budaya positifnya?
Sementara budaya negatif kian hari kian terpelihara.
Berkembang tanpa ada keseimbangan antar keduanya.

Berbagai kejahatan dari kelas teri hingga kelas kakap yang kita saksikan sehari-hari di media cetak dan televisi, semakin membekukan hati kita. Selalu waspada dan jangan pernah lengah. Berbaik hati hanya akan menurunkan kewaspadaan dan membuat kita tertipu dan celaka.

SEBUAH REALITI SHOW DI TV

Di acara tersebut seorang aktor akan berlakon sebagai orang yang membutuhkan pertolongan. Lalu ia akan meminta tolong pada semua orang yang ditemuinya secara acak. Orang yang memberi pertolongan akan mendapatkan hadiah. Semua kejadian di rekam oleh kamera tersembunyi sehingga diyakini bahwa orang yang menolong itu benar-benar tulus.

Pada edisi itu, ditampilkan seorang nenek tua yang kumal dan lusuh penampilannya, dan diskenariokan meminta minyak tanah ala kadarnya untuk memasak. Sang nenek pun berkeliling dari pintu ke pintu, lengkap sambil menenteng kompor dan jerigen minyak yang juga tak kalah kumalnya dengan penampilan si pemilik.

Bertemu orang pertama, sang nenek ditolak secara halus. Berikutnya, di sebuah warung kelontong yang cukup besar dan ramai, sang nenek kembali ditolak. Si pemilik warung terlihat waspada dan ‘menginterogasi’ si nenek, curiga si nenek adalah penipu. Berikutnya di sebuah rumah sederhana, sang nenek kembali ditolak, bahkan dengan kasar.

Sampai akhirnya sang nenek bertemu dengan seorang lelaki setengah baya pengecer minyak tanah yang sedang mengisi stok minyak di sebuah warung. Seorang lelaki yang gigih. Kerasnya kehidupan tampak jelas tergurat di wajahnya yang hitam berpeluh. Namun wajah itu terlihat ramah dengan senyum. Seperti sebelumnya, tanpa basa basi, sang nenek menghampiri dan meminta minyak tanah kepada si penjual itu. Si penjual minya! k tanah tampak sabar dan tekun menyimak penjelasan si nenek. Selesai sang nenek bercerita, tanpa berkata apa-apa, si penjual minyak langsung mengambil jerigen si nenek dan mengisinya. Tetap dengan wajah ramahnya. Tak ada sedikitpun rona kecurigaan, apalagi pertanyaan-pertanyaan ‘interogasi’. Bahkan ketika sang nenek ‘ngelunjak’ meminta kompor bututnya diperbaiki pula, si penjual minyak tetap melayaninya dengan ramah. Tak ada sedikitpun perubahan rona di wajahnya. Benar-benar tulus, tanpa prasangka!

Jadilah si penjual minyak ‘pemenang’ di acara tersebut. Ketika berikutnya sang pemenang diwawancara, semakin terkuaklah ‘mutiara’ itu. Pengecer minyak tanah itu ternyata cacat. Slamet, lelaki setengah baya itu, terlahir dengan kedua kaki yang cacat dan sebelah mata buta!. Setiap hari ia mencari nafkah berjualan minyak berkeliling perumahan, keluar-masuk kampung, menyusuri jalan raya, dengan sebuah sepeda tua yang dikayuh dengan sebelah tangannya!

Dan mengalirlah kemudian kisah tentang sebuah ketegaran jiwa, ketulusan menjalani garis hidup, kegagahan menghadapi kerasnya ombak zaman, dari seorang Slamet. Dan wawancara diakhiri dengan sebuah kalimat yang begitu menggetarkan dari Slamet, “Saya percaya Tuhan itu Maha Adil”. Seketika itu, runtuhlah semua kesombongan diri, hancur berkeping diterjang gelombang kesederhanaan. Musnah semua arogansi intelektualitas, tenggelam dalam kebeningan perasaan. Lepas segala ambisi dan nafsu duniawi, jatuh tersungkur di hadapan ketulusan seorang hamba, hamba yang begitu tulus menjalani hidupnya. Dengan semua ujian hidup yang begitu berat, dia tetap tersenyum ramah kepada siapapun, menolong semua tanpa membeda-bedakan walau hanya dalam batas kemampuannya, tak ada iri dan dengki terhadap sekelilingnya yang hidup jauh lebih beruntung, dan dengan ikhlas berkata: Tuhan Maha Adil!.

Tergugu. Betapa buruknya kita di hadapan seorang Slamet. Kita yang intelek dan terpandang, dipenuhi dengan berbagai nikmat, namun masih merasa tidak cukup. Seringkali protes ketika hanya mendapat sebuah ujian. Menjadi bebal dan keras hati oleh berlimpahnya materi dan kedudukan.

Hati yang tulus dan lembut masih ada bahkan banyak, bertebaran memenuhi persada. Memeliharanya memang sulit namun bukan sesuatu yang mustahil. Dunia yang keras dan culas tidak cukup menjadi alasan bagi kita untuk menumpulkan dan membekukannya. Karena kebaikan dan kelembutan hati bukanlah suatu hal bodoh dan sia-sia dalam dunia yang bergetah ini.

POSITIF

Sementara penyalahartian kebaikan dalam hal positif maksudnya bukan justru bermanfaat. Tapi hanya efeknya tak sefatal yang pertama tadi. Penyalahartian kebaikan yang dimaksud misalnya saat kita berbuat baik kepada seseorang di tengah orang lain yang tak berbuat hal serupa. Jika hal itu dilakukan terhadap lawan jenis bisa jadi muncul rasa GR (Gede Rasa) pada objek kebaikan kita tadi. GR yaitu suatu perasaan overestimate yang sebetulnya tak perlu. Hal ini merupakan follow up dari positive thinking yang berlebihan.

Biasanya fenomena ini menimpa orang yang masih belum menikah dan terjadi dengan lawan jenisnya. Mengapa? Karena bagi yang telah menikah jarang terlalu GR terhadap kebaikan lawan jenis yang mungkin dirasa terlampau baik. Akibatnya timbulah kesalahpahaman, ketidakpercayaan, kecanggungan, bahkan fitnah yang tentunya mengganggu pertemanan kita. Sederhana memang, tapi dari kesederhanaan pemicu itulah bisa berkembang akibatnya hingga fatal. Contohnya banyak. Mungkin kalian pun pernah mengalaminya.

Dari dua penyalahartian kebaikan di atas tentulah tidak bijak kiranya jika kita jera melakukan hal serupa. Karena jika niat kita awalnya hanya tulus dan mengharap ridho dariNya, kembalilah pada niat awal itu. Tetap berpegang pada Sabda Nabi,

“Tidak beriman seseorang hingga dia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendri”.

Adapun tetap konsisten berbuat berbaik kepada orang lain bukti kita mencintai mereka sebagai sesama Muslim.

Toh jikalau ada hal lain yang terjadi objek kebaikan kita di kemudian, itu adalah masalah dia dengan hatinya. Sedang urusan kita dengan Sang Maha Adil yang selalu mengerti apabila ketulusan memang mengalir dalam hati kita. Kita pun tak memiliki kewajiban mengingatkan mereka. Karena bisa jadi saat kita mengatakan ketulusan itu, justru takabbur menghampiri diri kita. Dan mungkin juga memicu sakit hati karena malu mereka yang bersangkutan telah berharap lebih.

hmmh.. itulah hidup. Penuh lika-liku perasaan dalam tiap tindakan yang bahkan tak bisa terduga. Tetap berpegang teguhlah padaNya agar kita tak tersesat dan terbuai indahnya dunia yang hanya fana.

sumber :

  1. http://kamusbahasaindonesia.org/
  2. http://www.mupeng.com/archive/index.php/t-15492.html
  3. http://ramadhanfaizal.multiply.com/journal/item/141/Bila_Kebaikan_Disalahartikan
 
Leave a comment

Posted by on October 5, 2010 in hikmah

 

Tags: , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: